Sedikit berbagi pengalaman mengenai dinamika kehidupan yang nyata terjadi di sekitar kita
Ambil saja sebuah contoh nyata tentang perkembangan bocah-bocah pada zaman sekarang. Mereka seakan-akan sangat cepat berkembang menjadi seorang dewasa. Bukan berarti dalam pola pikir secara jamak. Namun kenyatan kali ini menjadi hal yang ekstrem dimana anak-anak sekarang terdorong secara tidak langsung namun cepat terpengaruhi oleh karakteristik perkembangan budaya. Tengok saja seorang anak usia sekolah dasar yang membuat facebook dan mengupdate status tema kegalauan percintaan. Gambaran ini seakan-akan menjadi cermin apakah wajar perilaku tersebut?.
Perkembangan gadget juga mempengaruhi hal ini. Apa yang menjadi kebutuhan seakan akan menjadi gaya hidup. Ironis memang. Etika seakan-akan pudar oleh ungkapan-ungkapan kekecewaan anak terhadap cara perawatan dan bimbingan orang tua mereka. Penilaian ini umumnya diungkapkan oleh mereka yang melihat dan berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung dengan subjek. Latar belakangnya yaitu, salah asuhan. Orang tua merasa cukup setelah memberikan apa yang diinginkan oleh si anak. Semisal (kalo zaman saya) ingin dibelikan mainan mobil TAMIYA. Dalam cara orang tua membimbing anaknya kadang lepas kontrol. Contohnya dengan selalu memberikan apa yang anaknya minta. Hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang apabila tidak dipenuhi, si anak akan memberontak.
Perkembangan karakter dan pola pikir anak sebetulnya pengaruh utamanya adalah faktor pergaulan. Ambil contoh seorang anak yang masuk jenjang SMP. Latar belakang keluarga anak tersebut dikategorikan dalam golongan kelas menegah ke bawah. Anak tersebut adalah anak yang cerdas, selalu mendapat rangking teratas selama dia duduk di bangku sekolah dasar. Kemudian setelah lulus, dia diberi pilihan untuk malanjutkan jenjang pendidikan selajutnya. Anak tersebut memilih sekolah yang terdekat dengan rumahnya, dengan alasan mengurangi ongkos. Namun anak tersebut disarankan masuk ke sekolah dengan standard pendidikan yang bagus (katanya). Masuklah anak tersebut ke sekolahan favorit atas saran wali kelasnya. Orang tua anak tersebut hanya mengikuti. Dalam benak orang tua hanya ingin yang terbaik bagi masa depan anaknya. Mereka tidak mau anaknya sama sengsara dengan mereka dan harapan ingin merubah nasib keluarga.
Setelah anak tersebut masuk sekolah di level yang lebih tinggi. Dia masuk ke sekolah yang kebanyakan muridnya datang dari golongan atas. Sebuah gambaran yang asing baginya dimana gengsi adalah hal utama. Sebagai mahluk sosial, tentunya dia didorong untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulan barunya agar dapat diterima dengan baik oleh teman-temannya.
Suatu hari anak tersebut diajak temannya untuk bermain game online. Mulailah dia mengenal game online. Tentunya game online adalah hal yang menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar